Breaking

Ewaneetaida, Tempat Istirahat

Antropologia / Top News / Travel / 8 September 2013

Manusia Memang Perlu Istirahat

Bikin ganas juga istilah ini, tapi itu sudah “penetapan” turun temurun. Orang berjalan kaki lewati gunung gunung terjal, dengan demikian, orang tidak bisa istirahat seenaknya disembarang tempat. Ada tempat khusus yang sudah ditentukan. Disitu, orang bisa duduk berlamaan, keluarkan keladi petatas, air, sambal, turunkan keringat. Bila badan su stabil, lanjut lagi ke “Ewanetaida” berikutnya.

Pandapat Anda!

Istilah ini lama kelamaan akan hilang, berhubung pembukaan jalan raya keliling Papua. Ini istilah orang Mee di sekitar Mapia yang suka jalan kaki, dari kampung ke kampung. Ada istilah Ewaneetaida untuk menyebut tempat beristirahat.

Jadi, sekalipun orang sudah capek jalan kaki, panjat gunung, keringat babasah, nanti orang kampung yang antar anda ke tempat tujuan akan mengatakan: “Beu, anak, jangan duduk disini, ada tempat istirahat diatas, jadi, kalau bisa, istirahat berdiri saja. Kalau mau merokok, ya, merokok sambil jalan, nanti kita istirahat di “Ewaneetaida”, begitulah arahannya.

Bikin ganas juga istilah ini, tapi itu sudah “penetapan” turun temurun. Orang berjalan kaki lewati gunung gunung terjal, dengan demikian, orang tidak bisa istirahat seenaknya disembarang tempat. Ada tempat khusus yang sudah ditentukan. Disitu, orang bisa duduk berlamaan, keluarkan keladi petatas, air, sambal, turunkan keringat. Bila badan su stabil, lanjut lagi ke “Ewanetaida” berikutnya.

Fakta bahwa, Ewaneetaida di jalan cuma satu tempat saja. Kalau kampung jauh, Ewaneetaida yang berikut pasti pondok untuk nginap. Begitupun selanjutnya.

Jadi orang biasa bilang pejalan kaki di pedalaman sangat kuat, itu benar adanya. Bukan pula berlomba jalan, tetapi target jalan dari kampung yang satu ke kampung yang lain, sudah ada dan ikuti itu. Bukan pula keharusan.

Bikin ganas juga istilah ini, tapi itu sudah “penetapan” turun temurun. Orang berjalan kaki lewati gunung gunung terjal, dengan demikian, orang tidak bisa istirahat seenaknya disembarang tempat. Ada tempat khusus yang sudah ditentukan. Disitu, orang bisa duduk berlamaan, keluarkan keladi petatas, air, sambal, turunkan keringat. Bila badan su stabil, lanjut lagi ke “Ewanetaida” berikutnya.

Setelah jalan darat sudah masuk, sa lihat, pejalan kaki banyak yang menderita. Jalan sudah berbatu, tidak ada pohon diatas untuk halangi matahari, mobil motor didepan dia, tarada yang berhenti angkut pejalanan kaki. Memang, pembangunan, disisi lain menguntungkan, tetapi disisi lain menghancurkan. Kecuali punya hati.

Soalnya lagi, bagi pejalan kaki, tempat Ewaneetaida itu sudah dirusak doser Exapator. Paling tidak, terima bersih debu jalan yang bisa berakibat TBC atau Bronghitiz.

Pandapat Anda!

Komentar ! [ Kami tidak berhak mengubah komentar anda. Kami hanya berharap gunakan sopan santun dalam berkata-kata ]


Tags: , , ,



Marthen Tetedemay Yegoukotu Douto Douto Group
Sopir Nabire - Bomomani - Moane - Waghete - Enaro




Previous Post

Touyelogy, Bukan Metafisika

Next Post

Gara-Gara Miras





You might also like



0 Comment


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


More Story

Touyelogy, Bukan Metafisika

Ilmu yang mempelajari tentang YANG ADA dicari-cari oleh Aristoteles sejak beradad-abad yang lalu. Ia bingun memberikan nama...

5 September 2013