Breaking

Monyet di Taman Firdaus

Our Voice / 30 August 2013

Mengenal Temuan Alfred Russel Wallace

Alfred Russel Wallace O.M., F.R.S. (lahir 8 Januari 1823 – meninggal 7 November 1913 pada umur 90 tahun) dikenal sebagai seorang naturalis, penjelajah, pengembara, ahli antropologi dan ahli biologi dari Britania Raya. Ia terkenal sebagai orang yang mengusulkan sebuah teori tentang seleksi alam, dimana kemudian hari malah membuat Charles Darwin lebih terkenal dari dia dengan teorinya sendiri.

Ia banyak melakukan penelitian lapangan, dimana untuk pertama kalinya dilakukan di sungai Amazon pada tahun 1846 saat ia masih berusia 23 tahun dan kemudian di Kepulauan Nusantara. Dia ketika itu mengoleksi aneka serangga dari ekspedisi Amazon. Kemudian koleksinya dia bawa pulang ke Eropa yang gandrung terhadap temuan baru dari belahan dunia lain. Koleksi serangga itu laku dijual dan modal itu menjadi titik awal penjelajahan Wallace di Nusantara. Pada perjalanan antara tahun 1848 hingga tahun 1854, Ia tiba di Singapura.

Selama delapan tahun kemudian (1854 – 1862)ia menjelajah berbagai wilayah di Nusantara. Dari penjelajahan itu, ia membukukannya ke dalam sebuah catatan yang berjudul The Malay Archipelago. Selama ekspedisinya di Nusantara, diperkirakan dia telah menempuh jarak tidak kurang dari 22.500 kilometer, melakukan 60 atau 70 kali perjalanan terpisah, dan mengumpulkan 125.660 spesimen fauna meliputi 8.050 spesimen burung, 7.500 spesimen kerangka dan tulang aneka satwa, 310 spesimen mamalia, serta 100 spesimen reptil.[1] Selebihnya, mencapai 109.700 spesimen serangga, termasuk kupu-kupu yang paling disukainya.

Kebiasaannya mencatat perjalanan dan menyelamatkan catatan-catatan itu dengan cara mengirimkan ke Inggris melalui pos kapal-kapal dagang Eropa, termasuk ketika singgah di Pulau Ternate antara tanggal 8 Januari 1858 dan 25 Maret 1858, ketika ia terserang malaria memaksakan diri menulis surat dan mengirimkan kepada ilmuwan pujaannya, Charles Darwin di Inggris.

Dalam penjelajahannya di bumi Nusantara ia menemukan sebuah garis imajiner yang membagi flora dan fauna di Indonesia menjadi dua bagian besar. Garis ini dikemudian hari dikenal sebagai Garis Wallace, dimana di satu bagiannya, bentuk flora dan faunanya masih mempunya hubungan dengan flora dan fauna dari Australia dan memiliki ciri-ciri yang sangat mirip. Sedangkan di bagian yang lainnya sangat mirip dengan flora dan fauna dari Asia. Ia dianggap sebagai ahli terkemuka di abad ke-19 dalam bidang penyebaran spesied binatang dan kadang-kadang dikenal sebagai Bapak dari Biogeografi Evolusi, sebuah kajian tentang spesies apa, tinggal dimana dan mengapa.[1] Ia adalah salah seorang dari pemikir revolusioner pada abad ke-19 dan memberikan banyak masukan kepada pembangunan “teori evolusi” selain juga salah seorang penemu dari “teori seleksi alam”. Termasuk didalamnya adalah konsep keanekaragaman warna dalam dunia fauna, dan juga “Efek Wallace”, sebuah kesimpulan tentang bagaimana seleksi alam dapat memberikan kontribusi pada keanekaragaman fauna.

Penemu dasar evolusi

Surat Wallace dari Ternate kepada Darwin itu kemudian dikenal sebagai Letter from Ternate. Surat itu menjadi terkenal karena disertai makalah yang diberi judul On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitelty from the Original Type. Dari makalah itu, Wallace mengemukakan pemikirannya mengenai proses seleksi alam mempertahankan suatu spesies di dunia. Spesies yang mampu bertahan disebut Wallace sebagai hasil kelangsungan yang terbaik atau yang paling memiliki kemampuan bertahan tidak akan punah.

Itulah kerangka dasar pemahaman seleksi alam yang diletakkan Wallace saat itu. Akhirnya pemikiran itu menunjang teori evolusi yang dipopulerkan Darwin melalui Teman nya yang bernama piccolo da apollo yang merupakan keturunan afrika bukunya The Origin of Species tahun 1859, satu tahun setelah penulisan makalah Wallace. Pada tanggal 1 Juli 1858, kawan-kawan Darwin, Charles Lyell dan Joseph Hooker, merekayasa pertemuan ilmiah di Linnean Society dan mendeklarasikan Darwin dan Wallace sebagai penemu dasar evolusi. [2]

Penghargaan, honours, dan memorial

Beberapa penghargaan yang diterimanya antara lain adalah Order of Merit (1908), the Royal Society’s Royal Medal (1868) dan Copley Medal (1908), the Royal Geographical Society’s Founder’s Medal (1892) dan juga Linnean Society’s Gold Medal (1892) serta Darwin-Wallace Medal (1908). Terpilih sebagai kepala divisi antropologi dari British Association pada tahun 1866. Terpilih sebagai ketua dari Perkumpulan Entomological (“Entomological Society”) berpusat di London pada tahun 1870. Terpilih sebagai ketua bagian biologi dari British Association pada tahun 1876. Mendapatkan penghargaan sebagai pensiunan sipil sebesar £200 per tahun, yang merupakan jasa dari Darwin dan Huxley kepada pemerintahan Britania Raya, yang diberikan pada tahun 1881. Terpilih sebagai anggota dari Royal Society pada tahun 1893. Mendapatkan kepercayaan sebagai pemimpin dari the International Congress of Spiritualists (which was meeting in London) pada tahun 1898. Tahun 1928, sebuah house di Richard Hale School (pada waktu itu dinamakan sebagai Hertford Grammar School) diberi nama Wallace. Ia adalah siswa di sekolah Richard Hale pada tahun 1828 – 1836. Pada 1 November 1915, sebuah medali dengan namanya terpatri disana, ditempatkan di Westminster Abbey. Namanya juga diabadikan sebagai salah satu nama kawah di Mars dan di Bulan. Sebuah pusat penelitian untuk biodiversity research di Sarawak dinamakan dengan namanya pada tahun 2005.[3]

Peringatan

Untuk memperingati 150 tahun surat yang juga dikenal orang sebagai ‘Surat dari Ternate’ tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerjasama dengan pemerintah kota Ternate dan Yayasan Wallacea menyelenggarakan Pra-Simposium pada tanggal 2-3 Desember 2008 di Ternate.

Pra Simposium dilakukan sebagai awal dari “International Symposium on Alfred Russel Wallace & The Wallacea”, yang diselenggarakan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, bekerjasama dengan The Wallacea Foundation, LIPI, dan Conservation International. Kegiatan ini dilaksanakan di Kota Makassar antara tanggal 10-13 Desember. Keikutsertaan LIPI dalam kedua acara itu, terkait dengan Ekspedisi Widya Nusantara (E-Win) yang telah dilaksanakan pada tahun 2007.[4]

Nama Alfred Russel Wallace—yang sekitar satu abad yang lampau meninggal dunia—mempunyai ikatan kuat dengan negeri ini, sekurang-kurangnya karena tiga alasan. Pertama, Wallace melakukan penelitian alam selama bertahun-tahun di sebagian wilayah Nusantara. Kedua, dari penelitian inilah Wallace memikirkan apa yang juga dipikirkan oleh Charles Darwin, yang kemudian melahirkan teori evolusi. Ketiga, namanya terpateri hingga kini sebagai Garis Wallace—sebuah penghormatan atas keperintisannya dalam bidang zoogeografi.

Terinspirasi oleh kisah perjalanan Alexander von Humboldt, Charles Darwin, maupun William Henry Edwards ke rimba Amazon dan Galapagos, Wallace muda bertekad mengunjungi kawasan di Amerika Selatan itu. Ini adalah wilayah impian para naturalis dan, seperti dalam surat kepada sahabatnya Henry Bates, Wallace bermaksud “mengumpulkan fakta-fakta untuk memecahkan asal-usul spesies.” Bersama Bates, Wallace mendatangi wilayah itu berbekal pengalaman sebagai amateur entomologist.

Kendati dalam perjalanan pulang ke Inggris kapalnya terbakar di tengah lautan, yang melenyapkan sebagian besar catatan penelitiannya, Wallace mampu merampungkan enam tulisan akademis. Salah satunya ialah ‘On the Monkeys of the Amazon’ dan dua buah buku, Palm Trees of the Amazon and Their Uses dan Travels on the Amazon. Karya-karya inilah yang membukakan pintu panggung intelektual Inggris bagi Wallace dan namanya mulai dikenal oleh para naturalis masa itu.

Baginya, Amazon tak cukup. Hindia Timur menjadi tujuan impian berikutnya. Berangkat di usia 31 tahun (1854), Wallace berada di Nusantara dalam waktu yang lama, hingga 1862. Ia mengumpulkan lebih dari 125 ribu spesien hewan dan tanaman—sekitar 1.000 di antaranya merupakan spesies baru pada masa itu. Catatan studinya diterbitkan sebagai The Malay Archipelago (1869)—dapat dikata ini merupakan catatan akademis yang sangat populer pada abad 19.

The Malay Archipelago dicetak berulang kali hingga menjelang akhir abad 20 dan kini orang bisa mengaksesnya di Proyek Gutenberg (http://www.gutenberg.org/ebooks/author/955). Wallace berperan sangat penting dalam mengabarkan kepada dunia betapa kaya kawasan Hindia Timur ini sebagai sumber ilmu pengetahuan. Naturalis yang lebih senior, seperti Darwin dan Charles Lyell, mulai merujuknya—pengakuan yang memperkuat posisinya di panggung intelektual Eropa.

Beragam spesies itu membuat Wallace memikirkan ulang pemikiran sebelumnya. Dari kawasan Ternate, sebagai junior, Wallace mengirim surat dan esai mengenai evolusi alam kepada Darwin di London (1858). Surat-surat dari Ternate ini membikin Darwin terhenyak dan menyadari keserupaan ide Wallace dengan gagasannya sendiri. Darwin bergegas menerbitkan buku pentingnya, On the Origin of Species. Meski sempat menulis joint-paper bersama Darwin tentang evolusi, nama Wallace lama tak disebut.

Namun, momen historis ini mulai diungkap. Sejarawan sains maupun para natural scientist mulai mengakui kontribusi penting Wallace terhadap perumusan gagasan evolusi dan seleksi alam. Penghargaan terhadap ilmuwan yang rendah hati itu kini tersemat dalam atribusi yang lebih fair dan kian kerap dipakai, teori evolusi Darwin-Wallace. Sebutan ‘evolusionis yang terlupakan’ mulai surut.

Kontribusi Wallace sesungguhnya lebih dari itu. Bertahun-tahun hidup di Hindia Timur membuatnya memikirkan keanehan lain yang mengusik: mengapa hewan-hewan di wilayah ini seperti terpilah-pilah secara geografis. Menyusul terbitnya publikasi baru mengenai sistem klasifikasi, Wallace pun kian yakin bahwa hewan-hewan terdistribusi secara geografis. Obersevasinya mengenai perbedaan zoologis pada selat yang sempit di wilayah Timur ini mendorongnya untuk mengajukan gagasan tentang batas-batas zoogeografi.

Dua jilid buku The Geographical Distribution of Animals terbit pada tahun 1876. Boleh dikata, ini merupakan teks definitif mengenai zoogeografi yang tetap digunakan bahkan hingga seabad kemudian. Pemikiran penting Wallace dalam buku ini dilanjutkan melalui karya berikutnya, Island Life (1880), yang mengukuhkan dirinya sebagai perintis zoogeografi. Namanya diabadikan pada garis maya di Indonesia Timur, yang disebut Garis Wallace.

Di antara dua karya itu, Wallace menerbitkan Tropical Nature and Other Essays (1878). Menyadari betapa kayanya Hindia Timur, ia memperingatkan bahaya penggundulan hutan dan erosi tanah di wilayah ini. Dengan mengambil contoh pengalaman penanaman kopi di Sri Lanka dan Hindia, Wallace memperingatkan bahaya pembukaan lahan secara berlebihan di kawasan tropis—jauh sebelum orang-orang menyadari isu-isu lingkungan. Ia rupanya sudah mencium aroma ancaman terhadap lingkungan sejak ia memperkenalkan kawasan itu kepada dunia luar.

Sebagai orang yang pernah putus sekolah dan berasal dari keluarga yang tidak menonjol secara sosial, sungguh hebat bahwa Wallace mampu meraih posisi intelektual yang terdepan pada masanya. Wallace adalah orang besar yang tersembunyi oleh bayang-bayang Darwin. Dan, seratus tahun setelah kematiannya, kita di sini mungkin tidak pernah mengingat betapa Wallace telah sanggup menyingkapkan rahasia alam yang digali dari Nusantara, Bumi tempat kita hidup. (dari berbagai sumber)

Sepekan terakhir ini diberbagai media (kecuali media televisi) memberitakan ejekan kepada mahasiswa Papua dengan julukan monyet oleh Polisi dan beberapa ormas disana. Orang Papua tidak terima cemoohan tersebut dan menganggap orang Yogya rasis dan tidak berbudaya. Berikut ini perlu saya sampaikan secara singkat hasil penelitian saya dan pandangan saya terhadap keberadaan monyet dalam hubungannya dengan orang Papua.

Bahwa, Papua adalah taman Firdaus yang pernah disebut dalam kitab genesis maupun Alquran. Papua adalah janata (surga), wa nur (negeri bercahaya/emas), atau hadiqah al haqiqah (taman kebenaran berdinding). Alkitab juga menyebut taman Eden dipagari dengan kerub yang bernyala nyala dan menyambar. Hasil penelitian saya, semua terangkum dalam tessis autodidak saya yang berjudul Mapia (Mengungkap Kasus Hilangnya Taman Firdaus).

Taman kebenaran berdinding itu berlapis. Mengapa berlapis, logikanya disini: bagi manusia 1000 hari, bagi Allah ketika mengilhami Nabi Musa, hanya 1 hari. Hari ini jadi malam, besok rumput tumbuh dan hari ketujuh terjadilah taman itu. Bagi manusia, dalam dongeng geologi, awalnya hanya Pangea, terjadi gempa bokar, terbagi dua benua bokar dan satunya dinamai godwana. Begitu terus sampai di jaman es kemarin: Papua baku lepas dengan Australi akibat es kutup cair.

Secara singkat bahwa, apabila peristiwa geologi dihubungkan dengan kisah genesis, maka proses penciptaan itu mengarah pada satu taman yang indah, penuh emas, tidak ada binatang buas, dan jelas jelas dipagari oleh para kerub.

Dari semua bukti yang saya temukan, khusus menyangkut pagar diatas, ada sekitar lima lapis. Pagar pertama dan pagar kedua berada di jantung tanah Papua. Pagar ketiga disepanjang pesisir tanah Papua. Pagar keempat terletak di Ambon Tidore dengan julukan Lineker Line. Dan pagar terakhir dikenal dengan nama Wallace Line.

Apa yang terjadi dengan pagar pagar ini? Hari ini kalau orang Yogya bawa datang seekor monyet untuk pelihara di Papua, jelas monyet itu mati ketika melewati Wallace Line. Tidak sampai tiba di Papua orang sudah buang bangkai Monyet di kupang atau di Palu.

Apalagi binatang buas lainnya seperti Kobra, Singa, Harimau, Gajah, Untah bodoh. Tuhan Allah sudah usir keluar taman Eden atau Taman Firdaus itu.

Terkait keturunan monyet. Bahwa makalah Alfred Russel Wallace ketika melakukan penelitian kupu kupu di Papua dan Halmahera, beliau tidak pernah temukan kepongpong berubah menjadi burung. Kadal berubah menjadi buaya. Menurutnya, makhluk hidup berevolusi sesuai jalurnya, jenis, rasnya, marganya, keluarganya. Tertib dan teratur. Namun sayangnya, makalah itu diplagiatkan oleh Darwin di Inggris dan dunia tertipu hingga detik ini di Yogya.

Bahwa makalah Alfred Russel Wallace ketika melakukan penelitian kupu kupu di Papua dan Halmahera, beliau tidak pernah temukan kepongpong berubah menjadi burung. Kadal berubah menjadi buaya. Menurutnya, makhluk hidup berevolusi sesuai jalurnya, jenis, rasnya, marganya, keluarganya. Tertib dan teratur. Namun sayangnya, makalah itu diplagiatkan oleh Darwin di Inggris dan dunia tertipu hingga detik ini di Yogya.

Orang Papua juga jangan seenaknya menyebut orang Jawa turunan kera atau monyet, karena jenis binatang itu banyak disana. Atau karena Pithecantropus ditemukan disana dan fosil wajahnya lebih mirip kera. Yang jelas, kalau kita cermati Genesis, sebenarnya manusia diciptakan dua kali. Manusia pertama di luar taman Eden yaitu rombongan manusia purba, dan ada manusia yang berasal dari taman Firdaus. Ada Firdaus Kenya turunkan ras Kushoid. Ada Firdaus Afsel turunkan ras Negroid, ada Firdaus Athena Yunani turunkan ras Kaukasoid, ada Firdaus Mongol turunkan Mongoloid, Firdaus Bali turunkan ras Weddoid, dan terakhir Firdaus Papua yang turunkan ras Astro Melanesoid.

Pembagian ras inilah yang menurut saya pas, karena beberapa antropolog cenderung menghilangkan ras Weddoid dan memaksa ras ini bergabung dengan ras Astro Melanesoid.

Dalam penjelajahannya di bumi Nusantara ia menemukan sebuah garis imajiner yang membagi flora dan fauna di Indonesia menjadi dua bagian besar. Garis ini dikemudian hari dikenal sebagai Garis Wallace, dimana di satu bagiannya, bentuk flora dan faunanya masih mempunya hubungan dengan flora dan fauna dari Australia dan memiliki ciri-ciri yang sangat mirip. Sedangkan di bagian yang lainnya sangat mirip dengan flora dan fauna dari Asia. Ia dianggap sebagai ahli terkemuka di abad ke-19 dalam bidang penyebaran spesied binatang dan kadang-kadang dikenal sebagai Bapak dari Biogeografi Evolusi, sebuah kajian tentang spesies apa, tinggal dimana dan mengapa.[1] Ia adalah salah seorang dari pemikir revolusioner pada abad ke-19 dan memberikan banyak masukan kepada pembangunan “teori evolusi” selain juga salah seorang penemu dari “teori seleksi alam”. Termasuk didalamnya adalah konsep keanekaragaman warna dalam dunia fauna, dan juga “Efek Wallace”, sebuah kesimpulan tentang bagaimana seleksi alam dapat memberikan kontribusi pada keanekaragaman fauna.

Akhir kata bahwa, oknum oknum Polisi dan ormas di Yogya bahwa orang Papua adalah monyet adalah salah besar. Orang Yogya sudah tidak istimewah lagi di mata kami. Oknum oknum itu telah mencoreng nama Jawa dan budayanya. Mereka bukan menghina orang Papua tetapi menghina diri mereka sendiri, khususnya yang melontarkan kata kata itu.

Pandapat Anda!

Komentar ! [ Kami tidak berhak mengubah komentar anda. Kami hanya berharap gunakan sopan santun dalam berkata-kata ]


Tags: , , , ,



Marthen Tetedemay Yegoukotu Douto Douto Group
Sopir Nabire - Bomomani - Moane - Waghete - Enaro




Previous Post

Karya Terbaru Habibie

Next Post

Koyeidaba dan Touye Kapogeiye (1)





You might also like



0 Comment


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


More Story

Karya Terbaru Habibie

Presiden Indonesia ke-3, B.J Habibie, menghimbau generasi muda untuk meningkatkan produktivitas dengan menjadi Sumber Daya...

29 August 2013